Friday, November 19, 2010

Hafalan Al-quran Menjadi Mahar Pernikahan

Bismillahirrahmanirrahim..

أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ


Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Aku nikahkan kamu dengan dia dengan mahar apa yang ada padamu dari Al-Qur`an.”


Hadits ini diriwayatkan oleh:


Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. hadits 21733, 21783;

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitabul Wakalah no. hadits 2310, Kitab Fadhailul Qur`an no. hadits 5029, no. hadits 5030, Kitabun Nikah no. hadits 5087, 5121, 5126, 5135, 5141, 5149, 5150;

Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1425;

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Kitabun Nikah ‘an Rasulillah no. hadits 1023;

Al-Imam An-Nasa`i rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 3228, 3306;

Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1806;

Al-Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1879;

Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 968;

Al-Imam Ad-Darimi rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 2104.


Adapun kelengkapan hadits di atas dalam Shahih Al-Bukhari Kitabun Nikah no. 5149:


عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ يَقُولُ: إِنِّي لَفِي الْقَوْمِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذْ قَامَتِ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ. فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا، ثُمَّ قَامَتْ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ. فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتِ الثَّالِثَةَ فَقَالَتْ: إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ، فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْكِحْنِيهَا. قَالَ: هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: اذْهَبْ فَاطْلُبْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ. فَذَهَبَ فَطَلَبَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: مَا وَجَدْتُ شَيْئًا وَلاَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ. فَقَالَ: هَلْ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْءٌ؟ قَالَ: مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا. قَالَ: اذْهَبْ فَقَدْ أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ


Dari Sahl bin Sa’id As-Sai’di, ia berkata: Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba berdirilah seorang wanita seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.”1 Beliau pun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian berdirilah wanita itu dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” Beliaupun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian ia pun berdiri untuk yang ketiga kalinya dan berkata: “Sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikan dia, bagaimana menurutmu.” Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.” Beliaupun menjawab: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Ia berkata: “Tidak.” Kemudian beliaupun berkata: “Pergilah dan carilah (mahar) walaupun cincin dari besi.” Kemudian iapun mencarinya dan datang kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata: “Saya tidak mendapatkan sesuatupun walaupun cincin dari besi.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an?” Ia berkata: “Ada, saya hafal surat ini dan itu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengan dia dengan mahar berupa Al-Qur`an yang ada padamu.”


Jalur Periwayatan Hadits

Hadits ini bermuara pada Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj Al-Madani. Adapun para rawi yang meriwayatkan dari beliau yaitu Sufyan bin ‘Uyainah, Malik bin Anas, Ya’qub bin Abdurrahman, Hammad bin Zaid, Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi, Za`idah bin Qudamah Abu Ash-Shalt, Abdul ‘Aziz bin Abi Hazim Abu Tamam, Abu Ghassan Al-Madani Muhammad bin Mutharrif, dan Fudhail bin Sulaiman An-Numairi.




Makna dan Faedah Hadits


Kalimat:

إِنِّي لَفِي الْقَوْمِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذْ قَامَتْ امْرَأَةٌ

“Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba berdirilah seorang wanita.”


Pada riwayat Fudhail bin Sulaiman terdapat lafadz:

كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم جُلُوسًا فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ


“Tatkala kami duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, datanglah kepada beliau seorang wanita.”


Pada riwayat Hisyam bin Sa’d dengan lafadz:

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَتَتْ إِلَيْهِ امْرَأَةٌ


“Tatkala kami berada di sisi Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, datanglah kepada beliau seorang wanita.”


Dan demikianlah keumuman riwayat menggunakan lafadz “Telah datang seorang wanita kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”


Apabila dilihat secara zhahir, riwayat ini bertentangan dengan riwayat dari jalan Sufyan bin ‘Uyainah yang menggunakan lafadz:


إِذْ قَامَتْ امْرَأَةٌ

“Ketika berdiri seorang wanita.”


Yang mana, kemungkinan makna قَامَتْ di sini adalah وَقَفَتْ, artinya “berhenti berdiri menghadap” maksudnya adalah dia datang hingga berhenti berdiri di tengah-tengah mereka, bukan sebelumnya duduk di majelis kemudian berdiri.


Dan pada riwayat Sufyan Ats-Tsauri yang diriwayatkan oleh Al-Isma’ili disebutkan:


جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ

“Telah datang seorang wanita kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang berada di masjid.”


Riwayat ini menerangkan tempat kejadian kisah ini, yaitu di masjid.

Adapun nama wanita dalam kisah ini, Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Saya belum menemukan siapa namanya. Disebutkan dalam kitab Al-Ahkam karya Ibnu Al-Qasha’, wanita itu bernama Khaulah bintu Hakim atau Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha. Jika demikian, nama ini diperoleh dari penukilan wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tersebut dalam tafsir surat Al-Ahzab ayat 50:


وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ

“Dan perempuan beriman yang menghibahkan dirinya kepada Nabi.”


Dalam Kitab Tafsir, hadits no. 4788, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyebutkan: “Yang nampak, wanita yang menghibahkan (menawarkan diri) itu lebih dari satu orang.” Namun beliau memastikan bahwa wanita yang menawarkan diri dalam hadits ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha adalah Khaulah bintu Hakim radhiyallahu ‘anha, meskipun ada yang mengatakan ia adalah Ummu Syarik atau Fathimah bintu Syuraih. Ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah Laila bintu Hathim atau Zainab bintu Khuzaimah, dan dalam riwayat yang lain Maimunah bintul Harits. (Fathul Bari 8/646 dan 9/250)


Kalimat:

فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ


“Ia berkata: ‘Sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu’.”


Dalam riwayat lain terdapat lafadz:


فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي


“Ia berkata: ‘Ya Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku kepadamu’.”


Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Diamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara ini menjadi dalil atas bolehnya seorang wanita menghibahkan dirinya sebagai ganti atas mahar dalam pernikahan. Hal ini sebagaimana firman AllahSubhanahu wa Ta’ala:


وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan perempuan beriman yang menyerahkan dirinya kepada Nabi, kalau Nabi mau menikahinya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang beriman.”Al-Ahzab: 50) (


Para sahabat kami (yakni pengikut mazhab Syafi’iyah) berkata bahwa ayat dan hadits ini menjadi dalil dalam masalah tersebut (penghibahan diri seorang wanita). Maka, apabila seorang wanita telah menghibahkan dirinya untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamShallallahu ‘alaihi wa sallam setelah itu untuk membayar maharnya. Berbeda dengan selain beliau, karena pernikahannya tetap diwajibkan untuk membayar mahar sebagaimana telah disebutkan. kemudian beliau menikahinya tanpa mahar, yang demikian itu halal (sah) untuk beliau. Tidak ada kewajiban sama sekali atas beliau


Tentang perihal keabsahan akad nikah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafadz‘hibah’ terdapat dua pendapat:


- Ada yang mengatakan sah sesuai dengan ayat dan hadits di atas.

- Ada yang berpendapat tidak sah, bahkan akad nikah tidak sah kecuali dengan lafadztazwijinkah. Tidaklah sah akad nikah, kecuali dengan salah satu dari dua kalimat tersebut. (Al-Minhaj, 9/215) atau

Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Pada lafadz penghibahan terdapat dalil bahwasanya menghibahkan diri dalam pernikahan merupakan kekhususan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan ucapan para sahabat ketika ingin menikahi wanita yang telah menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan: “Nikahkanlah saya dengannya.” Mereka tidak mengatakan: “Hibahkanlah dia untuk saya.” Juga berdasarkan ucapan wanita tersebut: “Aku telah menghibahkan diriku untukmu.” Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan komentar atas perkara itu. Hal ini menjadi bukti tentang bolehnya perkara ini khusus bagi beliau. Juga didukung dengan ayat:


خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang beriman.” (Al-Ahzab: 50) [Fathul Bari, 9/254-255]


Lafadz:

فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا

“Dan beliau tidak memberi jawaban sesuatupun.”

Pada riwayat Ma’mar, Ats-Tsauri, dan Za`idah menggunakan lafadz:

فَصَمَتَ

“Beliau diam.”

Adapun pada riwayat Ya’qub, Ibnu Abi Hazim, dan Hisyam bin Sa’d dengan lafadz:

فَصَعَّدَ النَّظَرَ فِيهَا وَصَوَّبَهُ


“Beliau melihat bagian atas dan bawahnya.”

An-Nawawi rahimahullahu berkata: فَصَعَّدَ bermakna رَفَعَ artinya menengadahkan pandangan (melihat bagian atas). Adapun صَوَّبَهُ bermakna خَفَضَ artinya menundukkan (melihat bagian bawah). Setelah itu beliau menundukkan kepala, terdiam, dan tidak memberikan jawaban. Dalam hal ini terdapat dalil bolehnya melihat seorang wanita yang akan dinikahi, walaupun dengan memerhatikan keadaan dirinya secara saksama.


Lafadz:

فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَنْكِحْنِيهَا


“Lalu berdiri seorang laki-laki dan berkata: ‘Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya’.”

Pada riwayat Fudhail bin Sulaiman terdapat tambahan “dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”


Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Saya tidak mengetahui siapa nama sahabat tersebut. Namun dalam riwayat Ma’mar dan Ats-Tsauri yang diriwayatkan Al-Imam Ath-Thabaranirahimahullahu disebutkan: “Berdirilah seorang laki-laki, saya kira dia dari kaum Anshar.”


Adapun pada riwayat Za`idah: “Telah berdiri seorang laki-laki dari kaum Anshar dan ia berkata: ‘Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya’.”

Pada riwayat Malik rahimahullahu dengan lafadz:

زَوِّجْنِيهَا إِنْ لَمْ تَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ

“Nikahkanlah saya dengannya jika engkau tidak berkeinginan terhadapnya.”

Lafadz:

قَالَ: هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ

“Beliau berkata: ‘Apakah engkau memiliki sesuatu?’.”

Dalam riwayat Malik terdapat tambahan: “Sesuatu yang dapat kamu (berikan) kepadanya sebagai mahar?” Iapun menjawab: “Tidak.”


Dalam riwayat Ya’qub dan Ibnu Abi Hazim: Ia menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah.”

Sedangkan pada riwayat Hisyam bin Sa’d dengan lafadz: “Rasulullah berkata: ‘Harus ada sesuatu (mahar) untuknya’.”


Dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa seorang laki-laki berkata: “Jika seorang wanita ridha dengan saya, nikahkanlah saya dengannya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya: “Apa maharnya?” Ia menjawab: “Saya tidak punya sesuatupun.” Beliau berkata: “Carilah mahar untuknya, sedikit atau banyak.” Ia berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak punya apa-apa.”


Lafadz:

اذْهَبْ فَاطْلُبْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ

“Pergi dan carilah, walaupun sebuah cincin dari besi.”


An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Di sini terdapat dalil bahwa nikah tidak sah kecuali dengan adanya mahar. Karena hal ini merupakan jalan keluar dari perselisihan, lebih bermanfaat bagi wanita dari sisi andaikata terjadi perceraian sebelum ia menggaulinya, wajib atasnya separuh dari mahar yang telah disebutkan. Kalaupun dilakukan akad nikah tanpa mahar, maka sah nikahnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


لاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً

“Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya.”Al-Baqarah: 236) (


Pada lafadz ini terdapat dalil tentang bolehnya mahar itu sedikit atau banyak dari sesuatu yang berupa harta jika terjadi keridhaan pada kedua belah pihak. Karena cincin besi menunjukkan harta yang paling sedikit. Dan inilah pendapat mayoritas ulama dahulu dan sekarang, sebagaimana dinyatakan oleh Rabi’ah, Abu Zinad, Ibnu Abi Zaid, Yahya bin Sa’id, Laits bin Sa’d, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Muslim bin Khalid Az-Zanji, Ibnu Abi Laila, Dawud, dan ahli fiqih dari kalangan ahlul hadits serta Ibnu Wahab.


Al-Qadhi rahimahullahu berkata: “Inilah mazhab atau pendapat seluruh ulama penduduk Hijaz, Bashrah, Kufah, Syam dan selain mereka, bahwa boleh bentuk mahar apapun selama dengannya terjadi keridhaan dari kedua belah pihak, walaupun sedikit. Seperti cambuk/cemeti, sandal, cincin besi, dan semisalnya.”

Al-Imam Malik rahimahullahu berkata: “Paling sedikit seperempat dinar seperti batasan hukuman bagi orang yang mencuri.” Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata: “Pendapat ini termasuk pendapat yang Al-Imam Malik rahimahullahu menyendiri padanya.”


Abu Hanifah rahimahullahu dan pengikutnya berkata: “Sedikitnya sepuluh dirham.” Ibnu Syubrumah rahimahullahu berkata: “Paling sedikit lima dirham, seperti batasan dipotongnya tangan bagi seorang yang mencuri.”

Dalam perkara pernikahan, An-Nakha’i rahimahullahu tidak menyukai mahar yang kurang dari 42 dirham. Terkadang beliau mengatakan kurang dari sepuluh (dirham).

Semua pendapat ini selain pendapat jumhur, merupakan pendapat yang menyelisihi As-Sunnah. Pendapat mereka terbantah dengan hadits yang shahih serta jelas ini.


Dalam hadits ini juga terdapat dalil atas pendapat yang menyatakan bolehnya memakai cincin dari besi walaupun di dalamnya terdapat perselisihan di kalangan ulama salaf, sebagaimana yang dihikayatkan oleh Al-Qadhi rahimahullahu. Di kalangan Syafi’iyah ada dua pendapat, dan yang paling benar dari keduanya adalah pendapat yang membolehkan, karena hadits yang melarang dalam hal ini lemah.

Juga disunnahkan untuk menyegerakan dalam menyerahkan mahar kepada calon istri.


Lafadz:

هَلْ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ شَيْءٌ؟ قَالَ: مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا


“Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an?” Ia berkata: “Ada, saya hafal surat ini dan itu.”

Dalam riwayat Sunan Abu Dawud dan An-Nasa`i dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang kamu hafal dari Al-Qur`an?” Sahabat itu pun menjawab: “Surat Al-Baqarah dan yang berikutnya.”


Dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafadz: “Aku nikahkan dia denganmu dengan engkau ajarkan kepadanya empat atau lima surat dari Kitabullah (sebagai maharnya).”


Lafadz:

اذْهَبْ فَقَدْ أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar apa yang ada padamu dari Al-Qur`an.”


Pada riwayat dari jalan Al-Imam Malik rahimahullahu terdapat lafadz:

قَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ


“Sungguh aku nikahkan engkau dengannya dengan (mahar) Al-Qur`an yang ada padamu.”


Demikian pula pada riwayat Ats-Tsauri yang diriwayatkan Ibnu Majah rahimahullahudengan lafadz:


قَدْ زَوَّجْتُكَهَا عَلَى مَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ


“Sungguh aku nikahkan engkau dengannya atas (mahar) Al-Qur`an yang ada padamu.”

Pada riwayat Ats-Tsauri dan Ma’mar yang diriwayatkan Ath-Thabarani rahimahullahudengan lafadz:


قَدْ مَلَكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ


“Sungguh aku jadikan engkau memilikinya dengan (mahar) Al-Qur`an yang ada padamu.”


Sebagian ulama (Abu Bakr Ar-Razi dari kalangan Hanafiyah dan Ar-Rafi’i dari kalangan Syafi’iyah) menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa barangsiapa yang berkata: “Nikahkanlah aku dengan fulanah,” kemudian dikatakan kepadanya:


زَوَّجْتُكَهَا بِكَذَا

“Telah aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar demikian dan demikian.” Maka telah cukup yang demikian itu dan calon suami tidak butuh untuk mengatakan: قَبِلْتُ (Aku terima).


Sebagian yang lain menjadikan dalil bolehnya menikahkan dan sah dengan lafadz selaintazwij atau inkah berdasarkan lafadz hadits مَلكْتُكَهَا.


Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Meski terdapat sekian lafadz, namun yang nampak bahwa yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu dari yang ada. Maka yang benar dalam masalah yang seperti ini adalah memandang kepada yang terkuat. Dan telah dinukil dari Al-Imam Ad-Daraquthni rahimahullahu, bahwa yang benar adalah riwayat yang menyebutkan dengan lafadz: زَوَّجْتُكَهَا karena mereka lebih banyak dan lebih kuat hafalannya.


Ibnul Jauzi rahimahullahu mengkritik bahwa riwayat Abu Ghassan dengan lafadz أَنْكَحْتُكَهَا dan riwayat yang lainnya dengan lafadz زَوَّجْتُكَهَا tidaklah diriwayatkan kecuali dari tiga orang saja. Mereka adalah Ma’mar, Ya’qub, dan Ibnu Abi Hazim. Beliau berkata: “Ma’mar banyak kesalahan dan dua yang lainnya (Ya’qub dan Ibnu Abi Hazim) bukanlah orang yang kuat hafalannya.”


Berkata Al-Hafizh rahimahullahu: “Apa yang dituturkan Ibnul Jauzi rahimahullahu berupa kritikan atas tiga orang rawi tadi terbantah. Lebih-lebih Abdul Aziz bin Abi Hazim, riwayatnya dikuatkan karena beliau meriwayatkan dari orangtuanya. Seseorang yang meriwayatkan dari keluarganya, lebih tahu tentang riwayat tersebut dibandingkan orang lain. Kami telah memilih orang-orang yang meriwayatkan dengan lafadz تَزْوِيج dibandingkan yang meriwayatkan dengan lafadz selain tadi. Lebih-lebih di dalamnya terdapat riwayat para hafizh seperti Al-Imam Malik rahimahullahu, Sufyan bin Uyainahrahimahullahu, dan yang semisal mereka, dengan lafadz أَنْكَحْتُكَهَا.


Ibnu Tin rahimahullahu berkata: “Ahlul hadits telah sepakat bahwa yang benar dalam hal ini adalah riwayat yang menggunakan lafadz زَوَّجْتُكَهَا. Adapun riwayat yang menggunakan lafadz مَلكْتُكَهَا adalah meragukan atau bimbang (وَهْمٌ).


Faedah dari Hadits

Di antara faedah lain yang dapat diambil dari hadits di atas:


Bolehnya seorang wanita menawarkan diri kepada seorang laki-laki yang shalih agar ia (laki-laki itu) menikahinya.


Disunnahkan bagi seorang wanita yang meminta dari seorang laki-laki (untuk menikahinya) namun tidak memungkinkan bagi laki-laki tersebut untuk memenuhinya, hendaknya seorang wanita dapat menahan diri (diam) dengan diam yang dapat dipahami oleh seorang yang dimintai hajat. Janganlah membuat laki-laki tersebut malu dari menolak. Tidak sepantasnya dalam meminta disertai dengan terus-menerus mendesak. Termasuk dalam hal ini yaitu meminta dalam urusan dunia dan agama dari seorang ahli ilmu. (Seperti seseorang bertanya kepada ulama setelah selesai menuturkan soal kemudian ulama tersebut diam, maka tidak sepantasnya untuk meminta dengan terus mendesak agar diberikan jawaban, -pen)


Tidak ada batasan dalam mahar tentang sedikit atau banyaknya.


Bolehnya menjadikan hafalan Al-Qur`an sebagai mahar dengan cara mengajarkan kepada istrinya.


Sekufu dalam pernikahan adalah dalam hal status diri apakah ia budak atau merdeka, dalam agama, nasab, dan bukan dalam hal harta. Karena dalam hadits di atas, laki-laki tadi tidak memiliki harta yang ia jadikan sebagai mahar kecuali hafalan Al-Qur`an yang ada padanya. (lihat Fathul Bari 8/250-262, Al-Minhaj, 9/215-217)


Sebaik-baik mahar dalam pernikahan ialah yang sedikit bebannya kepada suami berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu:


خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

“Sebaik-baik nikah ialah yang paling mudah (maharnya).” (Shahih Abu Dawud, no. 2117, Taudhihul Ahkam, 5/311)


Wallahu a‘lam.

Copied:HERE




Footnote: Sedang dikuasai kemalasan tahap gaban untuk menulis@__@. Makanya, ana meninggalkan sedikit perkongsian hasil blogwalking ana . Doakan ana sembuh dari penyakit malas ni.. ^__^



Ya ALLAH!maafkan aku apa yang mereka tidak tahu tentang aku..dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan..

Salam Eid Adha



Ya ALLAH!maafkan aku apa yang mereka tidak tahu tentang aku..dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan..

Monday, October 25, 2010

Pilihanku Hanya yang Beragama




Bismillahirrahmanirrahim….

Dalam sepi aku berbicara..

Keyboard seakan memanggil-manggil minta untuk dibelai. Tangan terus merapati keyboard dan terus memberi sentuhan manja padanya. Otak berputar ligat mencari idea untuk entri terbaru. Ilham dari ILLAHI untuk sekian kalinya dinanti lagi. Kuntuman doa dilafaz dalam sepi berulang kali. Mohon diberi ilham seperti selalu dan moga setiap bait bicara sepi ini ditulis atas tuntunan dariNYA. Selalu berpesan pada diri bahawa setiap kalimah dalam catatan sepi ini akan menjadi hujah antara diri ku dengan ALLAH!(asif, muqadimah agak merepek kali ni=p)

Menjejaki usia 20 tahun menuntut 1001 kekuatan. Andai tiada mujahadah yang tinggi pasti akan tersungkur di lembah kemaksiatan. Nauzubillah. Tangisan sepi  semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini. Semuanya kerana ana merasakan sudah tak mampu lagi menjaga hati ini. Terlalu sukar. Semakin dipinta dikikis perasaan itu dari pelupuk hati ini semakin menebal pula perasaan itu datang. Cuba mencari-cari kelemahannya agar hati ini tidak dibuai dalam cinta yang fatamorgana ini. Masih belum mampu. Dalam sepi lantas terpancul bait-bait doa dalam esakan penuh syahdu.

Ya ALLAH aku dah tak mampu menjaga hati ini! ENGKAU hadirkannya di saat aku masih bertatih untuk menyintaiMU..

Benar. Hati yang ALLAH amanahkan ini terasa tak mampu lagi ana jaga. Rasanya sudah terlalu kotor untuk dihinggapi cintaNYA. Walau selalu ana melantunkan ayat-ayat cinta buat RABB namun tetap jua diuji dengan kehadiran sang kumbang yang cuba-cuba menghampiri kelopak mawarku.  ALLAHurabbi.

Bila ALLAH datangkan cinta insan pada kita bermakna ALLAH sedang menguji tahap kecintaan kita padaNYA.

Ana sedar. Sebenarnya ALLAH sedang menduga lafaz-lafaz cinta yang sering ana lantunkan padaNYA setiap kali amanahNYA dilaksanakan. Adakah benar atau dusta semata. Diuju dengan kalam sendiri! Bukan mudah ingin meletakkan cinta kepada ALLAH sepenuhnya. Sering tarbiyahNYA terlebih dahulu datang menduga. Cinta  kepadaNYA bukan sekadar kalam yang meniti dibibir sahaja tapi mesti dibuktikan menerusi tindakan. Love ALLAH is not word but verb. Mujahadah yang tinggi sangat diperlukan untuk menepis segala gelombang cinta palsu.

ALLAH, jangan biarkan aku keseorangan dalam melawan perasaan ini. Aku ingin cintaMU, aku ingin redhaMU. 

Bercinta selepas kahwin.

Maksud ana di sini bukanlah untuk menidakkan cinta insan kerana hakikatnya cinta itu fitrah. Cinta itu sendiri hadiah dari ALLAH. Dicampakkan ke dalam  hati setiap hamba-hambaNYA. Ana cuma mengharapkan ‘cinta halal’(cinta selepas kahwin). Bukankah  itu lebih indah? Halal untuk dicintai dan dirindui:) Cinta itu sendiri boleh menjadi ibadah hati jika kedua-dua hati yang saling bertaut kerana ALLAH. Cinta dan rindu hanya kerana ALLAH. Tetapi jika cinta itu didasarkan atas nafsu semata maka cinta yang fitrah sudah bertukar menjadi fitnah. Cinta juga boleh menjadikan kita syirik kepada ALLAH bilamana kita meletakkan cinta kepada seseorang melebihi cinta kepada ALLAH, lalu membelakangkan hukum agama kerananya.

Kaulul hukama’: Manusia boleh menjadi hamba kepada apa yang dicintainya.

Justeru berhati-hatilah ketika hendak memberi cinta. Kalau cinta itu tak bermatlamatkan untuk membina baitul muslim lebih baik jangan berani  mencuba. Bila sudah terjerat pasti sukar untuk melepaskannya. Percayalah! Jika ada sang kumbang cuba merapati, benteng diri dengan perisai malu. Jangan mudah menyerah. Biarlah kita dikatakan ‘jual mahal’ kerana perempuan solehah itu sememangnya mahal harganya kerana dia mendapat permintaan yang tinggi di dunia dan akhirat.  Kalau si rijal itu ingin menjadikan kita sebagai sayap kiri perjuangannya, sepatutunya dia terlebih dahulu memenangi hati ibu bapa kita bukannya kita.

Kalau betul-betul suka datanglah berjumpa dengan ibu bapa. Tapi malangnya tak berani. Kalau begitu kenapa berani untuk bercinta sedangkan masih belum bersedia untuk 
berkahwin?   

Pilihanku hanya yang beragama.

Imam Nawawi pernah berkata: Aku mencintaimu kerana agama yang ada padamu tapi jika hilangkan agama yang ada padamu, maka hilanglah cintaku padamu..

Kata-kata yang menjadi azimat buat ana dalam membuat pilihan. Baitul muslim yang hendak didirikan bukan bermatlamatkan nafsu semata. Ianya perlu disempurnakan dengan tanggungjawab. Tanggung di dunia dan jawab di akhirat nanti!

Perkahwinaan dimulakan dengan cinta dan disempurnakan dengan tanggungjawab. 

Kebelakangan ini sering diasak dengan persoalan khitbah dan kahwin. Macam-macam persoalan yang timbul. Sampai tak mampu nak berkata. Hanya mampu tersenyum meraikan soalan daripada sahabat-sahabat :).  Ramai yang menyangka ana sudah khitbah. Terpulanglah. Hakikatnya, ana sendiri masih mengislah diri dan sedang berusaha ‘mensolehahkan diri’. Bukankah perempuan yang baik untuk lelaki yang baik? Sekarang cuba kurangkan sedikit  agenda MENCARI tapi berusahalah MENJADI kerana hanya jauhari yang kenal manikam. jadi hanya si soleh yang mengenal si solehah.

Telah tercatat jodohmu di luh mahfuz untukmu. Cuma peribadinya ditentukan oleh sejauh mana ketinggian peribadimu. Jika dirimu berada di jalan yang diredhaiNYA. InshALLAH si dia turut berada di landasan yang sama. Lupakan segala kegundahan hatimu, teguhkan dirimu pada cinta hakiki nescaya cinta lelaki soleh turut kau miliki..Nah, pilihan berada di tangan kita. Kita yang perlu mencorakkan diri kita jika pilihan kita adalah lelaki soleh..^__^




Hati ini milikMU,
Ummu Rumaysa
Ghurfati Firdausi
241010
10:09pm


 Ya ALLAH!maafkan aku apa yang mereka tidak tahu tentang aku..dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan..

Sunday, October 10, 2010

Bingkisan Ini Buatmu..Sayang!




~Ana titipkan entri kali ini khas buat sahabat fillah, Nurul Azyan sempena hari kelahirannya (10.10.10) Ukhibbuki Fillah, InshALLAH^__*~

Awan berarak ceria tiada titisan hujan,
Pohon melambai tanda sokongan,
Kususuri perjalanan bertemankan senyuman,
Dihari lahirmu sahabatku,

Dedaun berguguran,
Membuktikan kedewasaan,
Walau tanpa madah dan hadiah,
Namun cukup untukmu sekadar ucapan...

Selamat Hari Lahir,
Iringan doa kuhulur,
Bersyukur kepada-Nya,
 Atas nikmat usia,




Awan berarak ceria tiada titisan hujan,
Pohon melambai tanda sokongan,
Kususuri perjalanan bertemankan senyuman, 
Dihari lahirmu sahabatku, 

Usiamu ibarat mutiara,
Tiada berganti lagi,
Hiaskan iman bersulam taqwa, 
Agar sempat menuju haruman syurgawi,

Selamat Hari Lahir,
Iringan doa kuhulur,
Bersyukur kepada-Nya, 
Atas nikmat usia.



**Sanah helwa ya habibati.. Doaku sentiasa mengiringi perjalananmu..Moga dirimu sentiasa berada dibawah lembayung maghfirahNYA..Syukran di atas tautan ukhuwah selama ini..Syukran juga kerana sangat-sangat memahami diriku yang kekadang bersikap agak pelik(asif, ana sendri pun tak faham dengan perangai sendiri):( Speechless…**




With a bouquet of  L.O.V.E,
 Ummu Rumaysa
Baiti Jannati
091010
11:16pm

Friday, October 8, 2010

Menikmati Belaian CintaMU



 Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah, hari ini jari-jemariku kembali menari-nari di atas keyboard.Atas ilham dari ALLAH dapat jua ana melakar coretan inshALLAH berguna buat ana dan antum semua.Lama tak menulis. Sangat rindu untuk menulis sebenarnya!Dek kerana kekangan waktu dan taklifan yang bertimbun hasrat ditangguhkan buat sementara.Menulis seakan sudah menjadi terapi buat jiwa yang sering ditarbiyah ini^___~ Segala yang terbuku dihati akan dilepaskan melalui tulisan tuntas menterjemahkan rahsia disebalik sekeping hati.Kekadang dengan menulis masalah  seakan mengalir ke luar dari diri ini,lantas melenyapkan segala kegundahan hati ini.subahanALLAH, masyaALLAH!

ALLAH yang beri ujian, DIA pasti memujuk dengan cara dan kehendak NYA(credit to ukhti Insyirah)

ALLAHuakbar. Tersentap jiwa ana saat kali pertama membaca ayat di atas. Setiap kali ana diuji, ALLAH pasti hadiahkan sesuatu yang bermakna buat ana. Pasti akan ada bicara-bicara sepi yang merawat jiwa ini. Bagaikan ALLAH yang sedang berbicara! Rasa seluruh jasad kembali bertenaga. Masakan ALLAH ‘menghadiahkan’ ujian diluar kemampuan kita. ALLAH tak pernah menzalimi hamba-hambaNYA.Tapi kita selaku hambaNYA sering menzalimi diri sendiri:’(

Jangan diminta dikecilkan ujian, tapi mintalah diperbesarkan iman untuk menghadapi ujian!

Bersyukurlah apabila dipilih untuk diuji. Bukan semua hambaNYA dapat merasai belaian cintaNYA melalui tarbiyyahNYA. Bila ALLAH datangkan ujian sebenarnya petunjuk kita masih dalam perhatianNYA. Berapa ramai mereka yang hidup dalam kesenangan tanpa melalui jalan-jalan tarbiyyah semakin menjauhi ALLAH? ALLAH tahu bila kita dalam tarbiyyahNYA kita pasti kembali mencariNYA. Manusia. Susah ingat ALLAH, senang lupa ALLAH!Nauzubillah..

“Dan apa saja musibah yang menimpa dirimu, maka yang demikian itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebahagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(As-Syura: 30)

“Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,”kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? (Al-‘Ankabut: 2)

Hadith dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim menjelaskan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Cubaan apapun yang diberikan ALLAH kepada orang Islam, baik itu berupa kepayahan, kesakitan, kesusahan, kesedihan dan sebagainya, bahkan hingga duri yang mencucuk dikakinya, melainkan ALLAH akan menebus kesalahannya dengan cubaan tersebut.

Anas bin Malik r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: Pada hari kiamat nanti akan disediakan timbangan, maka datang para ahli solat, maka pahala mereka diberi dan setelah ditimbang lalu datang orang ahli puasa, maka pahalanya diberi setelah ditimbang, lalu datang ahli sedekah, maka pahalanya diberi dengan cara ditimbang, lalu datang orang yang mengerjakan ibadah haji, lalu pahalanya diberi juga dengan ditimbang, lalu datang pula orang-orang yang pernah ditimpa musibah, maka pahala untuk mereka tanpa dihitung dan tanpa ditimbang. Lalu Rasulullah s.a.w. membaca firman ALLAH:
Ertinya: “Sesungguhnya ALLAH akan memberikan pahala kepada orang-orang yang sabar tanpa dihitung.”
(Az-Zumar: 10)




Ya ALLAH, hambaMU ini kembali datang kepadaMU. Bukan tidak tahan dengan ujianMU tapi ingin  mengadu padaMU tempat aku kembali nanti.Ya RABB, bukan tidak ingin ku meminta kesembuhan daripada penyakit ini. Tapi aku bimbang andai KAU beri kesembuhan padaku adakah masih basah sujudku dengan bait-bait cinta ku kepadaMU. Adakah aku masih merasai belaian cintaMU apabila terlerai kesakitan ini? Masih  basahkah lidah ini dengan tasbih-tasbih sepi sebagaimana di saat kesakitan menyentap jasadku? Oh, TUHAN aku bukan ingin mendabik dada  bahawa akulah hambaMU yang paling tahan ujian. Tapi aku bimbang, bila ENGKAU sembuhkan aku, aku akan jauh,semakin jauh, dan semakin jauh denganMU. Aku pohon disaat ‘belaian cintaMU’ menyentuh jasadku hadiahkanlah aku kekuatan, kesabaran, dan ketabahan disepanjang laluan tarbiyyah ini. Mohon dikurniankan insan-insan yang memahami ‘bicara sepiku’ disaat lidahku kelu. Ya RAHMAN, Aku amat-amat memerlukan sokongan dari insan-insan disampingku untuk aku melawan derita ini. Aku milikMU ya RABB. Bila-bila masa sahaja ENGKAU berkuasa menghentikan nafas ini. Sebelum aku pulang ke pangkuanMU aku ingin meraih keampunaanMU, keredhaanMU ya RAHMAN ya RAHIM..Ameen                 




Dalam 'belaian' cinta,
Ummu Rumaysa 
Baiti Jannati
8 Okt 10
5.51am

 
     

Ya ALLAH! Maafkan aku apa yang mereka tidak tahu tentang aku dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan..Ameen

Mithaqan Qholizo:)

بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم  AlhamduliLLAH thumma alhamduliLLAH 30 JamadilAwwal 1436H | 21 Mac...